Awal mula cerita :
Sesuai dengan Hukum Indonesia
Surat kabar International Herald Tribune menurunkan dua tulisan bersambung mengenai praktek-praktek ‘kelabu’ yang dijalankan Perusahaan Tambang Emas dan Tembaga Amerika Freeport Mc Moran di Papua. Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh harian The New York Times, Freeport McMoran, yang disebut sebagai perusahaan tambang emas terbesar dunia, memberi pembayaran sebesar $20 juta dolar antara 1998 sampai 2004 kepada para jendral tentara dan polisi, kolonel, mayor, kapten, dan satuan-satuan militer. Sedangkan para komandan secara perorangan menerima puluhan ribu dolar.
Freeport dalam tanggapan tertulisnya mengatakan, apa yang dilakukan sudah sesuai dengan hukum Indonesia dan Amerika. Aparat keamanan ini harus memberi perlindungan kepada 18 ribu karyawan dan tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali tergantung pada tentara dan polisi Indonesia. Demikian tanggapan tertulis Freeport.
Mematai-matai Aktivis Lingkungan
Penyelidikan The New York Times juga mengungkap bahwa perusahaan itu menyadap surat elektronik e-mail dan pembicaraan telepon untuk memata-matai para lawan, yaitu aktivis lingkungan hidup. Hal ini, demikian salah satu karyawan yang pernah mendapat tugas untuk membacai pelbagai email, dilakukan bersama-sama dengan para pejabat intelijen militer Indonesia. Mengenai hal ini, Freeport tidak bersedia memberikan komentar.
Hubungan saling menguntungkan antara Freeport dengan pemerintah dan militer bisa ditelusuri sampai tahun 1960an, ketika perusahaan itu menginjakkan kakinya di bumi Papua. Sebagai perusahaan asing pertama, Freeport membangun jalan-jalan dan infrastrukktur di wilayah yang sulit dan bergunung-gunung itu.
Untuk mengamankan wilayah dan investasinya, maka Freeport melalui James Moffet memanjakan mantan diktator Soeharto beserta para kroninya. Freeport membayar liburan mereka, uang kuliah anak-anak mereka dan membantu dalam mendapatkan kesepakatan-kesepakatan yang membuat mereka kaya. Demikian kesaksian para karyawan dan bekas karyawan.
Sebaliknya di Amerika sendiri, Moffet berpaling pada tokoh-tokoh berpengaruh seperti Henry Kissinger dan J. Stapleton Roy, mantan dubes Amerika di Indonesia. Bersama para mantan pejabat militer dan dinas rahasia CIA, para sekutu berpengaruh ini membantu Freeport McMoran dalam meniti jalan berkelok-kelok politik Indonesia. Dan pada saat yang sama semakin memperteguh keterkaitan perusahaan dengan militer.
Jatuhnya Soeharto menyebabkan Freeport harus bersikap low profile, istilah yang dipakai Moffet adalah “no tall trees” artinya “jangan ada pohon tinggi.” Di lain pihak, para aktivis lingkungan hidup makin efektif dalam berkoordinasi dan suku-suku setempat semakin resah melihat sedikitnya imbalan yang diterima dari kekayaan alam mereka yang ditambang secara besar-besaran itu. Ketegangan sosial sekitar penambangan semakin meningkat. Para komandan militer melihat ini sebagai peluang untuk dinikmati. Kalau dulu Freeport mengandalkan pada kekuataan keamannya sendiri, dan tentara memperangi pemberontak. Tapi sedikit demi sedikit, kepentingan mereka semakin terkait.
Kemarahan Penduduk
Memang tidak ada penyelidikan yang menetapkan bahwa Freeport terlibat dalam pelanggaran hak-hak azasi manusia. Tapi di mata rakyat Papua, konglomerat emas ini semakin dikaitkan dengan pelanggaran yang dilakukan oleh satuan-satuan militer yang dalam sejumlah kasus menggunakan fasilitas Freeport.
Kemarahan penduduk mencapai puncaknya pada Maret 1996, dengan aksi protes terbesar yang pernah berlangsung sampai-sampai kegiatan perusahaan harus berhenti selama tiga hari. Para pemrotes merusak sekitar 3 juta dolar peralatan dan perkantoran. Menurut para pejabat Freeport, di antara perusak terdapat pria-pria berambut cepak, bersepatu boot, dan menggunakan walkie talkie.
Moffet segera terbang ke Indonesia dan bertemu dengan sekelompok perwira senior Indonesia di Hotel Hilton di Timika. Jendral Parbowo Subianto mengatakan “Moffet untuk melindungi kamu, perusahaanmu, kamu harus bantu tentara di sini.” Demikian Prabowo seperti diceritakan oleh seorang karyawan. Moffet kabarnya menjawab “katakan saja apa yang harus aku lakukan.”
Freeport McMoran menghabiskan 35 juta dolar bagi (lagi…)




bwat kamu2 yg monitornya wide, coba dech download file